Thursday, February 28, 2013

life is like.. blablabla


Ijinkan gw memulai tulisan ini dengan informasi sebagai berikut :

Pertama, suatu kali di musim hujan, gw ngobrol sama temen melalui alat komunikasi bernama mobile phone. Entah apa yang kami perbincangkan, gw ga bisa inget, saking banyaknya. Tapi dari sekian banyak yang kami bahas, ada satu hal yang nempel di otak. Dimana temen gw itu bilang kalo segala sesuatu terjadi karena suatu alasan.

Kedua, Les Misérables. Film karya Tom Hooper yang berhasil bikin gw merasa seperti nonton Broadway. Dari sekitar 158 menit yang gw lewati dan ratusan scene yang muncul, ada satu scene yang paling gw inget. Ketika Cosette (Amanda Seyfried) dan Marius (Eddie Redmayne) bertemu, lalu mereka bernyanyi dipisahkan oleh pagar rumah. Tiba-tiba ada penampakan seekor kupu-kupu hinggap di pagar sambil mengepakkan sayapnya perlahan. Wuaa, sempurna. Lengkap sudah sang sutradara membawa penonton merasakan bahwa Cosette dan Marius itu saling mencinta.

Ketiga, betapa abstraknya cara berpikir gw, sampai tiba-tiba gw inget tentang quote-quote yang nulis begini, ‘Life is like a movie’ blablabla.

Well, saatnya gw sambungkan ketiga informasi itu. Dan inilah hasil pemahaman gw.

Hidup itu ibarat film. Ok, bisaa. Naa, kalau gw pribadi menganggap bahwa kita ini aktor dan aktris yang memerankan karakter dalam film, sedangkan sutradaranya itu Tuhan. Hmm, Tuhan juga bisa jadi scriptwriternya, merangkap producer, merangkap music composer, dll. He’s The Artist lah. Kalau dalam kehidupan nyata sech bolehlah gw melihat sosok Charles Chaplin. Beliau itu salah satu pendiri United Artists Corporation (monggo di-Google). Kalau bikin film, beliau bukan cuma bertindak sebagai aktor, tapi juga sutradara, penulis skenario, producer, composer, all in one. But again, God, Himself, is the true Artist above all. The Master. The Almighty, more than Bruce Almighty. Tugas kita adalah memerankan karakter yang diberikan dengan sebaik-baiknya, bebas bereksplorasi. Asal ga melenceng dari arahan sutradara. The director has the vision.

Salah satu pengajar gw pernah bilang, apa yang kamu liat di film itu semua ada maksudnya. Settingnya, kostumnya, make-up-nya, lightingnya, dll, everything is there with purpose. Istilahnya Mise-en-Scéne (monggo di-Google lagi). Itulah yang membuat film keliatan bagus dimata penonton. Semua dipikirkan secara mendetail, semua dirancang dengan alasan. Seperti contohnya kupu-kupu dalam film Les Misérables. Kupu-kupu itu bukan tiba-tiba ada di pagar dan ga sengaja tertangkap oleh lensa kamera. Kupu-kupu itu memang dimaksudkan untuk ada disitu, sebuah simbol yang menguatkan penggambaran suasana cinta antara dua karakternya. Kenapa dalam film Argo banyak tight shot/ close-up, supaya kita bisa liat ekspresi setiap karakternya, merasakan ketegangan, kegelisahan, ketakutan yang sama dengan para karakternya. Kenapa warna nail polish Keira Knightley dalam film Seeking a Friend for the End of the World harus biru keabu-abuan? Gw yakin itu ada alasannya (walaupun gw ga ngerti apaan..hoho), yang berhubungan dengan penggambaran sosok karakter yang dimainkan Keira. Kenapa kalau sedih seringkali kita liat ada hujan turun, itulah simbol. Kecil sech, tapi punya makna terpendam, juga menyempurnakan. *cieeee* 
Itulah detail-detail yang kadang ga kita perhatiin, karena banyak hal lain yang lebih menarik perhatian kita. Biasanya sech hal-hal yang lebih kelihatan, yang lebih eye-catching gitu. Padahal tanpa disadari hal-hal kecil itulah yang melengkapi sesuatu yang besar itu.

Sering gw denger orang (salah satunya temen gw) bilang, ada alasan dibalik semua yang terjadi dalam hidup. Apa yang datang, apa yang pergi, seneng, sedih, memalukan, membanggakan, semua ada alasannya, walaupun ga semua harus kita cari alasannya dan ga semua alasan bisa kita pahami. Seperti simbol-simbol dalam film Stanley Kubrick yang suka susah buat dimengerti, tapi toh filmnya tetep bagus.

Mungkin kita sering ga sadar akan hal-hal yang kecil, karena terlalu dibuai sama hal yang besar (gw sering mengalami ini..hoho..). Hal kecil kalo ternyata hari ini masih bisa makan dan minum, hari ini masih bisa berangkat sekolah, masih bisa main bareng temen, masih bisa kerja, masih bisa peluk-cium orang tersayang. Sesuatu yang rutin, sederhana, tapi sering kita lupa. Fokus kita hanya pada sesuatu yang besar, pencapaian-pencapaian luar biasa dan ingin diakui oleh orang-orang. 
Apa artinya yang besar itu kalau ga bisa menikmati hidup. Apalah artinya budget besar, effect yang luar biasa kalo ceritanya memble.

Gw juga sering lupa dan ga merhatiin hal-hal kecil. Tapi mungkin ada saatnya kita (gw juga termasuk) musti bersantai, tenang, mengingat semua hal yang terjadi, besar dan kecilnya. We may not understand why all that should be happen, but the only thing that we can do is to trust the Director who direct our life.

Gw tutup dengan quote dari salah satu film kesukaan gw boleh ya. Ini ga nyambung sama life is like a movie sech, but since I like the quote, gw tulis aja ya.. hohoho.. *maksa*

"My momma always said life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." - Forrest Gump


Sunday, February 17, 2013

Co-Pas from Paulo Coelho

Sekitar awal bulan Februari 2013, gw ditawarin oleh beberapa teman gereja untuk naik gunung entah dalam rangka apa. Sebenernya kakak gw sech yang ditawarin lebih dulu, terus kakak gw nawarin gw dech. Hoho. Lokasi gunung yang bakal kami daki jaraknya ga terlalu jauh dari lokasi rumah gw, sekitar 1 jam naik mobil untuk nyampe ke base camp a.k.a lahan buat parkir mobil, baru dari situ kita jalan menuju the real TKP. Puncak yang kami tuju sebenernya sech ga terlalu tinggi, apalagi kalo dibandingin sama Gunung Merapi, mungkin kalo dibandingin tu ibarat buyut dan cucunya atau cicitnya lah ya. Pokoknya cukup lah bagi pemula. Awalnya gw sempet ragu, selain karena cuaca yang kurang bersahabat (musim hujan saudara-saudara), juga karena nyokap gw yang kalo dari nadanya antara nyuruh gw buat ga ikut pergi atau ga memperbolehkan gw pergi (agak mirip ya maksudnya?? Hoho). Ujung-ujungnya gw memutuskan buat pergi, lumayan lah buat pengalaman. Iseng tepatnya. Hoho. Berbekal sepatu seadanya, sendal se-pas-nya, minuman dan makanan seenaknya, gw dan temen-temen berangkat ketika orang-orang masih terlelap dalam mimpinya. Kami pergi sekitar jam 4 subuh, dengan perhitungan bahwa kami punya waktu yang cukup buat menikmati terbitnya matahari dari puncak. *luar biasa*

Perjalanan bisa dibilang tidak lancar, karena satu, kami muter-muter buat nyari lokasi yang dimaksud, dua, roda mobilnya sempet masuk ke got. Hoho. Keren sekaliii!! Alhasil kami baru sampai di lahan parkir sekitar jam setengah 6 pagi. Memang pada akhirnya cita-cita kami untuk menikmati sunrise itu gagal, tapi apa salahnya menikmati indahnya pagi. Hoho. Dengan semangat '45 kami tancap gas menuju puncak. Setelah sampai, lalu apa yang kami lakukan di puncak sana? Yang pasti, minum, makan dan foto-foto. Disertai ngobrol dan menikmati pemandangan. Singkatnya, SERU!!

It was fun!! Total awesome!! Thanks a lot to all of my friends and my brother. God bless yu ol..

Eitss.. tapi tujuan gw disini bukan bercerita soal itu. Sebenernya tujuan gw adalah meng-copy-paste tulisan (cerita pendek) karya Paulo Coelho. *agak kurang kreatif* *tak apa*
Mr. Coelho adalah seorang penulis asal Brazil, dan salah satu karyanya yang paling terkenal adalah The Alchemist. Bisa dibilang gw ini pembaca setia karya beliau, karena memang tulisannya menarik dan ceritanya penuh dengan pesan yang pas di hati. Nah, cerita yang mau gw co-pas a.k.a copy-paste diambil dari buku yang berjudul  "Seperti Sungai yang Mengalir". Buku ini berisi kumpulan cerita pendek serta renungan dari sang pengarang yang jumlahnya lebih dari 50 judul. Diantara seabrek judul itu, ada banyak yang menohok, menampar, mengingatkan kembali juga mencerahkan jiwa. Tapi, ada satu judul yang rasanya harus gw bagikan, yaitu 'Pedoman Mendaki Gunung'. Jeng! Jeng! Tau khan sekarang kenapa gw memulai dengan se-upil kisah tentang pengalaman gw mendaki gunung. Hoho.

Baiklah, tanpa basa/i lagi saatnya gw 'salin' tulisan yang berjudul Pedoman Mendaki Gunung.

Pedoman Mendaki Gunung

Pilihlah gunung yang hendak didaki

Jangan terpengaruh omongan orang-orang. "Gunung yang itu indah", atau "Gunung yang itu lebih mudah." Banyak daya upaya dan semangat yang mesti dikerahkan untuk mencapai tujuan Anda, dan Anda satu-satunya yang bertanggung jawab atas pilihan Anda, jadi hendaknya Anda betul-betul yakin dengan apa yang Anda lakukan.

Pelajari cara mencapai gunung tersebut

Sering kali Anda bisa melihat gunung itu dari kejauhan-indah, menarik, penuh tantangan. Tetapi ketika Anda berusaha mencapainya, apa yang terjadi? Ternyata gunung itu dikelilingi banyak jalan; ada bentangan-bentangan hutan di antara Anda dan sasaran Anda tersebut; jalur yang kelihatan gampang di peta, pada kenyataannya jauh lebih rumit. Maka Anda harus mencoba semua jalan setapak dan rute-rutenya, hingga akhirnya suatu hari Anda berdiri di hadapan puncak yang ingin Anda daki.

Belajarlah dari orang yang sudah pernah kesana

Mungkin Anda mengira hanya Anda seorang yang ingin sampai ke sana. tetapi selalu ada orang lain yang pernah memiliki impian yang sama, dan orang ini telah meninggalkan petunjuk-petunjuk yang bisa memudahkan pendakian Anda: di mana tempat terbaik untuk mengikatkan tali, jalan-jalan setapak yang bisa dilalui, ranting-ranting yang telah dipatahkan supaya jalurnya lebih gampang diterabas. Ini memang pendakian  Anda, tanggung jawab Anda juga, tetapi jangan lupa bahwa belajar dari pengalaman-pengalaman orang-orang lain selalu bermanfaat.

Bahaya-bahaya, setelah dilihat dari dekat, bisa dikendalikan

Saat Anda mulai mendaki gunung impian Anda, perhatikan lingkungan sekitarnya. Sudah pasti ada tebing-tebing curam. Rekahan-rekahan yang nyaris terlewat dari pandangan. Batu-batu yang telah tergerus angin dan hujan hingga menjadi selicin es. Tetapi jika Anda tahu tempat yang Anda pijak, akan Anda lihaat jebakan-jebakan itu dan bisa menghindarinya.

Lanskapnya berubah-ubah, jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya

Anda harus fokus pada tujuan Anda- yakni mencapai puncak, itu sudah pasti. tetapi, sambil mendaki, pemandangan tentu berubah-ubah, dan tidak ada salahnya Anda berhenti sesekali untuk menikmatinya. Semakin tinggi Anda mendalki, semakin jauh Anda bisa melayangkan pandang, makan sisihkan waktu untuk menemukan berbagai hal yang belum pernah Anda lihat,

Hormati tubuh Anda

Pendakian ini hanya bisa berhasil jikalau Anda memperhatikan kesejahteraan tubuh Anda. Hidup ini telah menganugerahi Anda dengan sekian banyak waktu, maka jangan menuntut terlalu banyak pada tubuh Anda. Kalau melangkah terlalu cepat, Anda menjadi lelah dan baru setengah jalan sudah menyerah. Kalau melangka terlalu lambat, malam akan turun dan Anda bakal tersesat. Nikmati pemandangan, minumlah dari mata air yang sejuk, dan makanlah buah-buah yang ditawarkan Alam dengan murah hati kepada Anda, tetapi jangan berhenti berjalan. 

Hormati jiwa Anda

Jangan terus-terusan berkata, "Akan kulakukan." Jiwa Anda sudah tahu itu. Yang perlu dilakukan jiwa Anda memanfaatkan perjalanan panjang ini untuk bertumbuh, untuk menggapi hingga ke cakrawala, menyentuh langit. Sekedar obsesi tidak membawa Anda kemana-mana, pada akhirnya malah akan merusak kegembiraan dalam mendaki. Di lain pihak, jangan terus-menerus berkata, "Ternyata lebih sulit daripada yang kukira," sebab ini akan melemahkan semangat Anda.

Bersiaplah untuk berjalan lebih jauh

Jarak menuju puncak gunung selalu lebih jauh daripada yang Anda perkirakan. Ada saatnya jarak yang kelihatannya sudah dekat itu ternyata masih sangat jauh. Tetapi ini tentunya bukan rintangan, berhubung Anda sudah siap untuk berjalan lebih jauh.

Bersukacitalah sesampainya di puncak

Menangislah, tepuk tangan, berteriaklah keras-keras bahwa Anda sudah berhasil. Biarkan angin (sebab di atas sana anginnya selalu kencang) memurnikan pikiran Anda, menyejukkan kaki-kaki Anda yang kepanasan dan letih, mecelikkan mata Anda, dan meniup debu-debu yang melekat di hati Anda. Apa yang dulu sekadar impian, visi yang dipandang-pandang dari kejauhan, telah kini menjadi bagian dari hidup Anda. Anda berhasil meraihnya, bagus sekali.

Ikrarkan

Sekarang Anda tahu bahwa di dalam diri Anda ternyata tersimpan kekuatan itu, maka katakan pada diri sendiri bahwa kekuatan ini akan Anda gunakan selama sisa hidup Anda; ikrarkan juga pada diri sendiri untuk menemukan gunung lain, lalu bangkitlah untuk menjalani petualangan itu.

Ceritakan kisah Anda

Ya, ceritakanlah. Jadilah contoh bagi orang-orang lain. Ceritakan pada setiap orang bahwa itu bisa dilakukan, supaya orang-orang lain juga menemukan keberanian untuk mendaki gunung-gunung mereka sendiri.

by Paulo Coelho (Seperti Sungai yang Mengalir - Pedoman Mendaki Gunung)


Semoga benar-benar bisa menjadi pedoman dan berkat.

God bless ^^ 

Sunday, July 22, 2012

655ribu rupiah

Suatu kali gw dan salah seorang temen gw, sebut saja Yebok, melakukan sebuah perjalanan dari Jakarta, Indonesia menuju Perth, Australia menggunakan sebuah maskapai penerbangan yang terkenal dengan tiket murahnya (sangat cocok untuk kantong pelajar yang ngirit atau mereka yang memang memiliki budget terbatas). Penerbangan kami dijadwalkan berangkat sekitar jam 1 siang WIB dan akan tiba di Perth sekitar jam 11 waktu setempat, tapi mampir dulu di Malaysia buat transit.

Okay, sampai disini gw jelasin dulu, bahwa tiket itu gw dapet dari temen gereja yang punya usaha travel agent gituu. Tiket yang dia kirim ke gw ga' tercantum berapa lama kami transit di Malay dan jam berapa penerbangan berikutnya ke Perth. Gw udah beberapa kali nanya ke dia buat dapet keterangan detailnya, tapi tetep ga' dapet. Menurutnya, dia juga ga dapet dari sononya. Okaylah, percaya aja, yang penting sampe tujuan dengan selamat. Tapi, gw dan Yebok tetep memperhitungkan kira-kira berapa lama kami harus menunggu di Malay, supaya tau apa yang mungkin bisa kita lakukan untuk menghilangkan rasa bosan selama nunggu transit. Beginilah peritungan kasar kami : perjalanan Jakarta - Perth sekitar 4-5jam, berarti kalo dari Malay mungkin nambah sekitar 1jam lebih yaa (perhitungan yang amat sangat kasar). Naa, dari Jakarta - Malay tu sekitar 1jam 45menit(kalo ga' salah). Jadi dalam pikiran kami, paling ga' kita berangkat dari Malay sekitar jam 6 sore waktu setempat. Seeph, let's bring our book!!! all set!! ready to go!!

Perjalanan gw awali naik bus dari kota Bandung tercinta. Sampai di bandara Soekarno-Hatta, kami melihat jadwal penerbangan (nge-check jadwal donx, takut ketinggalan pesawat.. ga' lucu juga kalo sampe ditinggal ato salah liat jadwal *tepokjidat). Melihat layar televisi yang menampilkan jadwal penerbangan, mata kami terbelalak karena ternyata jadwal penerbangannya diundur. Untuk lebih yakin lagi dengan jadwalnya, temen gw, yang saat itu juga sekalian mau upgrade baggage-nya, nanya ke mba-mba yang bertugas di kantor maskapai penerbangan ini, sebut saja mba 'A'. Naa, menurut mba A ini memang penerbangan kami diundur, tapi entah apa alasannya, ga' ada keterangan yang jelas. 
Waktu Yebok upgrade baggage-nya dia dikasi kertas keterangan tentang baggage yang baru plus ada keterangan jadwal penerbangan kita. Disitu tertera bahwa kami berangkat dari Jakarta jam 3 sore, nyampe Malay jam 6 waktu setempat. Terus penerbangan selanjutnya dijadwalkan dari Malay jam 6 kurang dan sampe di Perth jam 11an. Sudah jelas bukan ada letak keganjilan disituuuu?!

HOHOHOHOHOHOHOHOHO.. Hebatnya gw dan Yebok ga' sadar akan hal itu,, dan, yang menjadi pertanyaan kami adalah 'kenapa si mba A itu ga sadar juga ya? Padahal jadwal penerbangannya distabilo sama dia'. *sebuahtandatanyabesar

Baiklah, kembali lagi ke Jakarta. Masih dalam keadaan ga' sadar dengan waktu yang saling tumpang tindih itu, gw dan YEbok nunggu dengan manisnya di airport. Laluuuu,tibalah waktunya keberangkatan kami. Sambil membunuh waktu selama perjalanan, Yebok memutuskan buat mengistirahatkan matanya sejenak, sedangkan gw memilih untuk baca buku (one of my favourite things). Kira-kira 3/4 perjalanan, gw mulai berpikir berapa lama kami harus menunggu di Malay. Gw perhatikan jam tangan yang terlilit manis di pergelangan tangan gw. Mulailah gw menghitung-hitung estimasi waktunya. DAAAAANNNN!!! DISITULAAHHH!!! Disitu gw baru sadar ada yang ga beres dengan jadwal penerbangan kami. Kebetulan saat itu Yebok udah bangun, jadi gw langsung pinjem kertas yang dikasih sama mba A ituu yang berisi keterangan jadwal pesawat. JENG..JENG..JENG..JENG!!!!!!! Jamnya kok deketaannn??!!! Masih ga' percaya dengan apa yang tertera di kertas itu, kami melihat kertas tiket.. DENG..DENG!!!!! Khaaaannn!!! Jamnya deketan!!!!!! Makin pusing, kita mutusin buat tanya ke pramugarinya. Bingung juga pramugarinya. Akhirnya dipanggilnya lah itu kepala pramugaranya (kayanyaaa). 
Dia bilang 'Penerbangan kita ga' telat kok mba', kita nanti sampenya tepat waktu'. Batin gw berkata, 'heeh, saya juga tau mas!'. Mulut gw berkata, 'tapi jadwal yang dari Malaynya mepet mas. Ini jam nya waktu Malay khan?(sambil nunjuk keterangan jam di tiket)'. Sambil kebingungan, diperhatiin lagi tu dengan seksama tiketnya sama mas-mas pramugara itu, terus dia bilang, 'gini mba, saya ga' tau kenapa mba pesen tiketnya waktunya kok yang mepet'. LHAAA?!
Temen gw langsung membela diri, 'mas, saya pesen tiketnya Jakarta-Perth, yang harusnya berangkat jam1, tapi tadi diundur jadi jam3'. Bingung kita musti nerangin apa lagi. Mungkin karena bingung juga, pramugara itu akhirnya ngasih solusi yang mungkin gw dan Yebok bisa lakukan, siapa tau masih keburu waktunya (walaupun di dalam hati kami tau itu udah ga' mungkin).
Nyampe di Malay, kita lari-lari buat ngejar waktu. Sampe di tempat check-in, benerlaaahhh..udah ditinggal kitaaaa!!! manissssss!!! Sama mba-mba yang jaga disitu kita disiruh dateng ke sebuah tempat (yang ternyata loket buat check-in), dia bilang disitu ntar bakal dibantuin buat re-schedule flight. Pendek kata, emosi serta tenaga gw dan YEbok sangat terkuras akibat : nungguin baggage yang sempet-sempetnya ga' nongol, jadi musti nungguin agak lama, ditambah pula kami dilempar dari satu loket ke loket yang lain cuma buat re-schedule penerbangan. Sekitar 3 kali kita disuruh pindah loket. EMOSIIIIIII!!!! Bukan cuma itu ajaaa, petugas yang melayani kami kebetulan sangat tidak baik saat itu. Dia memberikan solusi berupa : dimasukin dalam daftar waiting list untuk penerbangan malam itu, atau penerbangan selanjutnya di hari Kamis, yang which is di hari itu Yebok ada orientasi di sekolahnya untuk semester baru. Oh, gw lupa...Kejadian itu tepatnya terjadi di hari Selasa.. Jelaslah kami makin emosi!! Kita coba ngasih penjelasan, dengan isyarat kalo kita ga' mungkin nunggu sampe hari Kamis, tapi si mas-mas ini malah ngotot. Buseeeettttt!!! Cuma itu kemungkinannya dia bilang.. Baaaahhh!!! Macam mana pulaaa!!!  
Ditengah kebingungan, dan emosi yang memuncak, gw dan Yebok berusaha untk tetap menjernihkan pikiran supaya kita bisa ngambil keputusan yang tepat. Gw dan Yebok saling bertukar pandang dengan tatapan pasrah, bingung, dan ga' percaya dengan situasi yang kami hadapi. Ditengah kondisi itu, entah gimana ceritanya, tiba-tiba disamping mas-mas yang menyebalkan itu muncullah seorang bapak-bapak, yang gw asumsikan sebagai supervisornya (soalnya dia ga' pake seragam kaya petugas lain yang jaga di loket itu, dia pake kemeja dan terlihat lebih rapih). Sama bapak-bapak ini, sebut saja bapak 'N', diberikanlah solusi yang baru, yaitu kita berangkat malem itu jam 8 ke Bali, sampe di Bali jam 11an, baru dari Bali dilanjutin ke Perth.  Masalahnya kita harus nunggu 9jam di Bali untuk penerbangan selanjutnya. Melihat kondisi Yebok yang harus ada di sekolahnya hari Kamis, dan option yang ditawarkan oleh bapak 'N' itu adalah option yang terakhir, akhirnya kami memutuskan buat ngambil perjalanan yang sangat melelahkan itu.
Bapak 'N' kemudian mengurus semua proses pemesanan tiket, dkk yang gw ga' ngerti apa. Ternyata proses itu memakan waktu lama, lebih dari 1jam!! Gw dan Yebok hanya bisa berdiri di depan loket itu dan menunggu sambil meladeni pertanyaan pihak keluarga via sms yang khawatir dengan keadaan kami. 
Tenaga kami ternyata masih harus diuji, karena setelah tiket perjalana yang baru keluar, kami harus buru-buru mengejar pesawat karena waktu yang mepet. Hadooooohhhh.. *ngelusdada
Singkat cerita, setelah buru-buru dan lari-larian supaya ga' ditinggal (lagi) sama pesawat, akhirnya kami bisa melepas lelah sejenak di dalam pesawat. Lumayan lah 3 jam. Dengan penuh rasa lapar, kami memesan makanan yang harus kami bayar dengan uang kami sendiri. FYI, rupanya kompensasi dari re-schedule penerbangan kami hanya berupa tiket gratis. Ga' ada kompensasi lain berupa makanan atau tempat istirahat selama di Bali.

Sesampainya di Bali, tugas kami selanjutnya adalah mencari tempat untuk istirahat. Dibantu oleh kakak gw tersayang dan kakaknya Yebok juga, melalui SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) mereka coba ngasih alternatif dan petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan. Maklum, gw dan Yebok sama-sama anak perempuan, dan kami belom pernha mengalami hal ini sebelumnya. Belum lagi kita sampai di Bali tengah malem, makin paniklah orang tua, lebih spesifiknya orang tua gw. Kakak gw ngebantu buat nyari penginapan yang deket sama airport biar ga' repot. 
Beberapa kali menghubungi penginapan yang berbeda, hasilnya, kalo ga' full book, harganya kemahalan kalo dibandingin sama waktu yang bakal kita habiskan di penginapan itu, cuma 6jam cuuyyyyy. Setelah beberapa saat akhirnya kakak gw bilang 'udah, kamu ga' udah mikirin harganya mahal ato ga', yang penting kamu bisa istirahat. Sekarang ini udah jam segini (waktu menunjukkan pukul 1 dini hari), soalnya besok pagi kamu harus pergi lagi. Ini ibu yang khawatir'. Denger kata-kata itu, jujur gw ngerasa terharu dan ga' enak juga. Keluarga gw yang jadi ikut-ikutan repot. Dengan berat hati dan penuh ketegaran akhirnya kami memesan  kamar berharga Rp. 655.000,- di sebuah penginapan yang letaknya hanya 5 menit dari airport. Untungnya kami di jemput di airport oleh pihak penginapan. Fiuuuhhhhh.. Officially, kami benar-benar berada di atas tempat tidur jam 3 subuh setelah membersihkan diri dari bau keringat dkk. Pagi-pagi sekitar jam setengah 7 kami sudah harus mulai siap-siap untuk pergi ke bandara karena pesawat kami akan berangkat jam 9.
Setelah melalui perjalan yang begituuuuuuuu panjaaaaaaaaaaaannnnnnggggggg, tibalah kami di Perth. Thanks God ^^


Ga' pernah terbayangkan sebelumnya kalo gw bakal mengalami hal ini. Untung gw ga sendiri, ada Yebok disamping gw. Kami merasa beruntung bahwa kami tidak harus sendirian melalui perjalan panjang yang menguras emosi dan tenaga ini.
Mungkin diantara kalian udah ada yang pernah ngerasain apa yang gw dan Yebok alami. Bisa jadi lebih rumit ato lebih mudah. Mungkin cerita gw diatas terkesan berlebihan. Tapi bagi gw pribadi, kejadian itu kaya shock theraphy. Satu pesan nyokap gw di sms yang ga' pernah gw lupa adalah 'ya sudah, nikamati saja ya dik'. Iya buuu, aku sangat menikmati lari-larian di bandara Malay, dorong-dorong trolley di terminal keberangkatan di Malay buat nyari counter yang tepat setelah 3 kali dilempar kesana-kemari. Aku menikmati saat-saat nunggu baggage yang entah ada dimana. Menikmati makanan di atas pesawat yang ga' pernah aku order sebelumnya. Menikmati waktu yang sangat singkat di sebuah hotel yang terasa amat sangat nyaman saat itu walaupun hanya untuk 6 jam, 3jam diantaranya untuk menutup mata. hohohohohohoho
Ga' pernah gw naik pesawat sesering itu dalam waktu yang singkat. Dalam 24 jam gw naik pesawat 3 kali. Udah berasa kaya artis aja..hohohohohohohohoho
Ya, setiap kejadian pasti ada hikmahnya lah yaa.. Ketika emosi dan sikap kita diuji, ketika kita berpasrah dan berpengharapan. Mensyukuri bahwa gw dan Yebok sampai di tujuan dengan selamat dan ga' kekurangan suatu apa pun, kami sehat, itulah yang terpenting. Thanks Lord ^^

Di penghujung cerita, gw sarankan, ketika akan melakukan perjalanan, terlebih perjalanan panjang menggunakan pesawat, apalagi ditambah pake transit, jangan lupa cek jadwal penerbangannya. Perhatikan waktunya baik-baik, kalau ternyata di hari H ada keterlamabatan penerbangan, cek juga waktunya, pastikan kalian punya waktu yang cukup selama masa transit. Kalo ada tanda-tanda keganjilan, langsung tanya sama pihak yang bersangkutan. Pastikan kalian ga' akan ketinggalan pesawat. Hohohohohohohohoho.. Oh, istilah 'ada harga, ada barang' berlaku dalam hal ini. Pilihlah maskapai penerbangan yang memiliki fasilitas dan pelayanan yang baik, jadi kalo ada keganjilan atau masalah apa pun itu mereka bisa ngasih pelayanan yang terbaik (dioper-oper sampe 3 kali tu ga' enak lho, apalagi di tempat gede dalam keadaan buru-buru). Bayar agak sedikit lebih mahal kadang ga' apa-apa kok ^^
Daaannnnn... Kalo pada akhirnya bernasib sama dengan saya, aturlah emosi, usahakan untuk tetap berpikir jernih serta bijak, yakinlah bahwa akan ada pihak-pihak yang membantu kita untuk sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Kalo masih bingung, butuh orang untuk bicara, contohnya keluarga, jangan segan-segan untuk menghubungi mereka. Walaupun kadang mereka justru menambah emosi, tapi yakinlah suara mereka, kepanikan mereka membuat hati lega. Akhir kata jangan lupa 'berdoa'. Jangan lupa berkomunikasi sama Tuhan, mintalah tolong dan tuntunan Tuhan^^ Jujur hal ini sering saya lupakan ketika panik. Tapi cobalah untuk tetap ingat. Diatas semua usaha kita, ada Tuhan yang tanpa sadar menuntun kita untuk melalui semua itu..

Selamat melakukan perjalan panjang. Selamat menikmati petualangan yang tidak terduga^^

Gusti Mberkahi^^


Monday, April 2, 2012

Sapa DiSapa

Hi..Hello..Haloo..

Lama banget rasanya gw ini ga nulis..
Berhubung belom ada bahan cerita yang bisa di-post..
Ijinkan saya menyapa lewat tulisan ini..

'HI EVERYONE!!!!'

Garink ya?!
Ga penting ya?!
Ya sudah, tak apa lah ya..

Ga ada salahnya menyapa.. Setidaknya ada 2 makna yg kita aplikasikan :  
Satu. Menegaskan bahwa kita masih eksis di dunia ini, sekali pun dalam lingkup yang kecil (emang artis doank yg bisa eksis..)
Dua. Menyatakan keberadaan orang lain a.k.a orang yg kita sapa pun merasa bahwa dia dilihat&eksis

Ayoooo.. Mariii.. Silahkan..
Sapa lah orang-orang yang anda kenal, berikan senyum manis pada yg tidak dikenal (itung2 senam muka).. Lakukan dalam porsi yg wajar bila anda tidak ingin dianggap gilaaaa..

Regards